Diposkan oleh amu ayat on 19:19
Label:




PULUHAN puluhan ekor ikan koi berbagai ukuran berenang riang ke sana kemari dalam salah satu kolam besar seluas empat meter kali 11 meter dengan kedalaman sekitar 60 sentimeter.
Warna-warna merah, kuning, hitam, biru, dan coklat susu cerah yang membentuk pola tertentu pada sisik ikan-ikan itu, seolah berkelebat berkilat-kilat tertimpa cahaya Matahari dalam kolam yang hampir terisi penuh air.

Sementara di salah satu sudut kolam, Sisharbudi (40), salah seorang petani ikan koi di Desa Krenceng, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, terlihat sibuk menebar pakan ikan ke dalam kolam. Setiap kali butir-butir pakan menyentuh permukaan air, seketika itu pula puluhan ikan berenang ke arah pakan itu dan memakannya dengan rakus.
Sisharbudi hanyalah salah satu dari sekitar 1.200 petani ikan hias bernama latin Cyprinus carpio di Kabupaten Blitar. Kecamatan Nglegok adalah salah satu sentra pertanian ikan koi di Kabupaten Blitar.

Delapan tahun lalu pria mantan guru sekolah menengah kejuruan (SMK) itu mencoba mengadu peruntungan dengan membuka usaha pertanian ikan koi sendiri. Bermodalkan uang Rp 200.000 untuk membeli 100 ikan, Sisharbudi kemudian memulai usahanya.

"Awalnya coba-coba saja. Dulu saya membeli bibit ikan dan membudidayakannya sampai besar. Waktu itu saya belum tahu kalau ikan koi itu ada kelas-kelasnya, tidak tahunya dapat kelas yang jelek. Akibatnya saat dijual harganya murah," ujar Sisharbudi mengenang.

MENURUT data Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar, di daerah ini usaha ikan koi pertama kali muncul tahun 1983. Jenis usaha itu kemudian terus berkembang, yang tampak dari semakin bertambahnya jumlah peternak serta volume produksi ikan koi.

Pada tahun 1997 tercatat sebanyak 350 petani ikan koi dengan kemampuan produksi 3,7 juta ikan per tahun. Jumlah itu bertambah pada tahun berikutnya dengan volume produksi mencapai enam juta ikan yang dipelihara oleh sekitar 575 orang petani.

Sedangkan pada tahun 1999 tercatat 648 petani koi dengan jumlah produksi 13,5 juta ikan. Pada tahun 2000 dan 2001 jumlah populasi ikannya membengkak menjadi 18 juta ikan dan 22 juta ikan, dengan jumlah petani mencapai 780 orang dan 1.200 orang.

"Serangan virus herpes tepat setahun lalu mengakibatkan separuh jumlah petani ikan koi gulung tikar. Sementara beberapa saat menjelang serangan penyakit itu total produksi ikan koi di Kabupaten Blitar sudah turun menjadi 20 jutaan ikan. Saat ini kemungkinan baru 30 persen saja petani koi mulai bangkit kembali," ujar Sisharbudi.

Menurut Sisharbudi, sekitar Maret 2002 virus jenis herpes dan aeromonas mengakibatkan banyak petani merugi. Kedua jenis virus ini hanya membutuhkan waktu tiga hari sejak pertama kali menginfeksi. Gejala-gejalanya warna sisik memerah, timbul bintil-bintil, atau mengelupas sampai menyebabkan kematian.

VIRUS itu juga mampu menular melalui medium udara maupun air. Celakanya jika virus itu terus berkembang dan menular pada induk ikan koi. Padahal, harga sepasang ikan koi jenis unggul bisa mencapai Rp 5 juta. Selain itu, masa produktif ikan koi cukup panjang, mencapai tujuh tahun sejak usia tahun ketiga hingga tahun ke-10.

"Setiap tiga bulan per pasang induk bertelur menghasilkan 40.000 ekor benih koi. Setelah melalui beberapa tahap seleksi, jumlah itu susut menjadi 4.000 ekor ikan koi berkualitas bagus. Waktu ikan-ikan saya terjangkit virus, dari 3.000 ekor benih ikan pilihan hanya mampu bertahan sekitar 90 ekor," ujar Sisharbudi.

Bisa dibayangkan kerugian yang diderita para petani ikan koi waktu itu. Padahal di Kabupaten Blitar usaha pertanian ikan koi tersebar di beberapa kecamatan seperti Nglegok, Sanankulon, Garum, Talun, dan Gandusari.

Dari data dinas kelautan dan perikanan Pemkab Blitar, total potensi lahan di wilayahnya mencapai 197,5 hektar. Sayangnya menurut Sisharbudi, dari 1.200 petani hanya 10 persen yang memiliki lahan sendiri sementara sisanya diperoleh dengan menyewa.

Menurut Sisharbudi, dari seluruh petani koi yang ada, 10 persen berskala besar dengan luas lahan tiga hingga lima hektar. Selebihnya, petani ikan koi berskala menengah (40 persen) dengan luas lahan tiga perempat hektar dan sisanya petani berskala kecil.

DARI setiap hektar biasanya dihasilkan 2.000 ikan koi berkualitas terbaik. Sedangkan setiap tahun para petani bisa menangguk untung dari hasil panen sebanyak tiga kali.

"Dalam kondisi normal, dengan kisaran harga Rp 100.000 per ekor, omzet dari 1.000 ekor bisa mencapai Rp 100 juta. Belum lagi ditambah pendapatan dari penjualan ikan-ikan koi yang tidak lolos seleksi. Jika ditekuni secara serius, usaha ini bisa sangat menjanjikan," ujar Sisharbudi.

Walau demikian, sektor usaha ini ternyata diakui Sisharbudi belum mampu menarik minat kalangan perbankan. Hingga saat ini bisa dipastikan belum pernah ada alokasi dana dalam bentuk pinjaman kredit ke para petani ikan koi.

Keadaan itu menyebabkan hingga saat ini budi daya ikan koi belum juga mampu berkembang, baik dari segi teknologi maupun manajemen pengelolaan. Kondisi itu terbukti saat serangan virus terjadi. Sampai saat ini para petani tidak tahu bagaimana cara mengobati penyakit itu.

"Jumlah petani ikan koi memang terus bertambah. Akan tetapi, teknologi yang digunakan masih itu-itu saja. Kalaupun ada upaya mencari terobosan, hal itu tidak lebih dari sekadar mencari tahu jenis pakan atau obat-obatan baru yang lebih baik. Akibatnya tidak ada satu pun hal baru dari segi kualitas," kata Sisharbudi.

BAIK Sisharbudi maupun para petani lain melihat, keengganan kalangan perbankan dalam menyediakan pinjaman modal lebih disebabkan anggapan sektor usaha ini termasuk berisiko tinggi. Padahal justru kebalikannya, sektor pertanian ikan koi di Kabupaten Blitar relatif tidak mempunyai pesaing yang berarti. Kondisi alam, jenis kandungan tanah berpasir lereng pegunungan, serta kualitas air justru sangat menolong para petani untuk menghasilkan jenis koi kualitas terbaik.

Selain itu, menurut Sisharbudi, kalaupun sempat beberapa kali diguncang badai akibat penyakit, sektor usaha ini terbukti mampu bertahan. "Memang risikonya tinggi, tetapi tingkat kemampuan pemulihan para petaninya juga tinggi," tambah Sisharbudi.

Selain sudah mampu memenuhi kebutuhan ikan koi di Pulau Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sumatera, produk asal Blitar ini juga sudah menembus pasar beberapa negara Asia dan Eropa, seperti Singapura, Taiwan, Jerman, Perancis, dan Amerika Serikat (AS).

"Kalau saja ada semacam sentra atau ruang pajang ikan hias koi, di mana para calon pembeli cukup mendatangi satu lokasi saja sebelum memutuskan bertransaksi, hal itu akan sangat menolong kami. Selain itu, juga semakin memperbesar peluang ekspor tanpa harus melalui tangan kedua atau ketiga seperti saat ini," harap Sisharbudi.

Beberapa pehobi ikan hias jenis koi mengatakan, dengan memandangi ikan-ikan koi berenang-renang ke sana kemari di dalam kolam, bisa menghilangkan beban stres. Jika benar demikian, keadaan itu justru menciptakan suatu ironi tersendiri.

Saat orang lain bisa menghilangkan stresnya dengan memandangi koi, para petani juga merasa stres memikirkan kelangsungan nasib usaha mereka. Stres lantaran kalangan perbankan maupun pemerintah tidak peduli dengan kesulitan mereka.

Jangan lupa juga baca yang ini



Widget by autolovers | kodokpinter

2 komentar:

jeblognetter said...

sipp bosss

bramasta_09 said...

UD. Nabila Farm

Kami petani koi dari Sleman-Yogyakarta yang sudah berpengalaman. Kami menjual induk dan benih ikan koi berbagai ukuran. Melayani pengiriman keluar kota dan luar pulau. Alamat : Jl. Kaliurang Km 13,5 Sleman-Yogyakarta.
Bibit koi yang kami hasilkan adalah bibit koi berkualitas tinggi dan telah melalui proses seleksi breding yang ketat, untuk kwalitas warna sudah tidak perlu diragukan lagi karena ikan yang kami jual sudah melalui tahap sortir warna dan pola. Berikut kami informasikan data dari tempat usaha pembibitan kami :
Corak : Showa, Sanke, Kohaku, Tancho..Dll
Great : Super dan A
Pemijahan : Alami ( Jantan impor Jepang, Betina lokal Blitar)
Pengairan : Mata air tersirkulasi
Kolam : Fiber dan Semen
Pengangkutan:Dikemas dlm kotak styrofoam penahan panas, tahan sampai 15 jam.
Kota tujuan : Kalimantan,Papua,Bali,NTB,NTT,Sulawesi,Maluku,Sumatra,Kepri.
Kapasitas pengiriman :
UKURAN : KAPASITAS / BOX :
Larva : 50.000 ekor
6 cm : 500 ekor
12 cm : 60 ekor
20 cm : 30 ekor
25-30 cm : 15-20 ekor
40 cm : 5 ekor
Untuk informasi harga murah berkualitas dan konsultasi teknik budidaya silahkan contak person Fadli 085753563403 / 081227354545, kunjungi blog kami di www.koibenih-fadli.blogspot.com atau datang langsung ke lokasi pembibitan kami di Jl.Kaliurang Km 13,5 Sleman-Yogyakarta (10 meter selatan Honda AHASS). Kami memberikan garansi ikan selamat sampai ke tujuan.
Datang….Lihat dan tentukan keputusan yang terbaik bagi anda…..
Pin BB : 22863B3D


Post a Comment

Search